« Paradigma Sehat Dalam Public Health Universal Coverage dan UKM (Oleh-oleh dari Bali) »

Euthanasia

Maret
27th
member
trias

Berikut adalah 8 buah naskah tugas Filsafat Ilmu IKM B 2011 (Orasi Tentang Euthanasia), Excellent and Applause for all of you my pupils…Ahmad CandraIKMB 2011101111193EuthanasiaJika saya diharuskan untuk memberikan pendapat saya mengenai euthanasia, apakah saya setuju dengan adanya praktek euthanasia tersebut, jelas dengan lantang saya akan mengatakan tidak. Saya tidak menyetujui adanya praktek euthanasia ini.Euthanasia, berasal dari kata dalam Bahasa Yunani eu yang artinya baik, dan thanatos yang berarti kematian. Jadi jika digabungkan berarti kematian yang baik. Mulai dipopulerkan oleh Hipokrates, dimana dalam Sumpah Hipokrates di dalamnya terdapat kata euthanasia tersebut. Disebutkan olehnya yaitu, “ Saya tidak akan menyarankan dan atau memberikan obat yang mematikan kepada siapapun meskipun telah dimintakan untuk itu”. Dari pernyataannya tersebut dapat didefinisikan euthanasia ini merupakan tindakan pembunuhan yang dilakukan secara sengaja dengan alasan permintaan orang lain atau sang korban itu sendiri. Dalam prakteknya euthanasia ini dibagi menjadi 3, yaitu :

  • Euthanasia agresif, disebut juga euthanasia aktif, adalah suatu tindakan secara sengaja yang dilakukan oleh dokter atau tenaga kesehatan lainnya untuk mempersingkat atau mengakhiri hidup seorang pasien. Euthanasia agresif dapat dilakukan dengan pemberian suatu senyawa yang mematikan, baik secara oral maupun melalui suntikan. Salah satu contoh senyawa mematikan tersebut adalah tablet sianida.
  • Euthanasia non agresif, kadang juga disebut euthanasia otomatis (autoeuthanasia) digolongkan sebagai eutanasia negatif, yaitu kondisi dimana seorang pasien menolak secara tegas dan dengan sadar untuk menerima perawatan medis meskipun mengetahui bahwa penolakannya akan memperpendek atau mengakhiri hidupnya. Penolakan tersebut diajukan secara resmi dengan membuat sebuah “codicil” (pernyataan tertulis tangan). Eutanasia non agresif pada dasarnya adalah suatu praktik eutanasia pasif atas permintaan pasien yang bersangkutan.
  • Euthanasia pasif dapat juga dikategorikan sebagai tindakan euthanasia negatif yang tidak menggunakan alat-alat atau langkah-langkah aktif untuk mengakhiri kehidupan seorang pasien. Euthanasia pasif dilakukan dengan memberhentikan pemberian bantuan medis yang dapat memperpanjang hidup pasien secara sengaja. Beberapa contohnya adalah dengan tidak memberikan bantuan oksigen bagi pasien yang mengalami kesulitan dalam pernapasan, tidak memberikan antibiotika kepada penderita pneumonia berat, meniadakan tindakan operasi yang seharusnya dilakukan guna memperpanjang hidup pasien, ataupun pemberian obat penghilang rasa sakit seperti morfin yang disadari justru akan mengakibatkan kematian. Tindakan euthanasia pasif seringkali dilakukan secara terselubung oleh kebanyakan rumah sakit.

Kembali membahas mengapa saya tidak menyetujui adanya praktek euthanasia ini. Pada dasarnya mengapa praktek ini bisa terjadi alasannya yaitu adanya rasa frustasi, depresi, dan tekanakan psikologis lainnya yang dialami oleh pasien yang mempunyai penyakit yang berkepanjangan dan bahkan sudah tidak mungkin bisa disembuhkan sehingga dirinya memilih untuk mengakhiri hidupnya secara tenang, tanpa mengalami sakit yang berlebihan. Pada kasus yang seperti ini, memang tidak mudah melewati suatu cobaan dalam hidup, apalagi cobaan yang bentuknya suatu penyakit ganas ataupun kecacatan fisik yang dialami dalam waktu yang lama, apalagi sampai menghambat segala pekerjaan yang seharusnya bisa kita lakukan secara normal, namun karena adanya suatu gangguan tersebut segalanya jadi sangat sulit dilakukan. Melihat dari tokoh Ethan dalam film Guzaris, dimana tokoh Ethan yang mengalami lumpuh total akibat kecelakaan pada saat melakukan aksi sulap yang memang menjadi suatu keahliannya dan membuat namanya begitu terkenal. Hidupnya memang berubah 180 derajat, dia tidak lagi bisa menunjukkan keahliannya sebagai seorang magician handal, jangankan untuk melakukan hal itu, untuk berjalan, mandi, makan, dan berbagai kegiatan sehari-hari lainnya dia tidak bisa melakukannya sendiri dan otomatis harus bergantung kepada orang lain. Selama 14 tahun lamanya dia menjalani hal tersebut, dan sampai pada akhirnya dirinya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan melakukan euthanasia terebut. Saya yakin kita bisa berfikir memang betapa wajarnya dia mengalami depresi yang begitu berat sampai akhirnya meminta untuk dibunuh. Orang normal mana yang mau menjalani hidupnya seperti Ethan. Jangankan seperti tokoh Ethan, Desember tahun lalu saya pernah mengalami kecelakaan yang menyebabkan tulang kaki saya mengalami fraktur. Saya dihadapi oleh tekanan mental, depresi berat, frustasi tidak bisa melakukan kegiatan sehari-hari secara normal, berjalan harus menggunakan kruk sebagai penopang, banyak mimpi saya yang harus dibuang jauh-jauh akibat kejadian ini, dan berbagai hal lain yang dapat membuat saya merasa sangat lemah. Memang sangat jauh jika dibandingkan seorang yang lumpuh total dan seorang yang patah tulang, namun hal ini lah yang sangat jelas bisa terlihat, seorang yang hanya mengalami patah tulang saja dan padahal bisa sembuh dalam waktu tertentu dapat mengalami tekanan mental yang begitu kuat, apalagi seorang yang lumpuh total, tidak berdaya melakukan apapun sendiri, dan tidak tahu sampai kapan akan terus begitu bahkan bisa jadi seumurhidupnya akan seperti itu, jadi sangat sangat wajar apabila Ethan meminta dirinya untuk dibunuh secara baik-baik.Namun sekarang, apakah ketika nantinya Ethan telah disuntik mati, dan telah meninggal, semua penderitaannya akan selesai? Apakah dia akan beristirahat dengan tenang? Ingatlah ajaran agama manapun, agama Islam tepatnya mengajarkan bahwa setelah meninggal di dunia ada kehidupan yang lebih kekal nantinya. Apa yang dilakukan Ethan itu nantinya tidaklah beda dengan tindakan bunuh diri, mengakhiri hidupnya dengan kehendaknya sendiri, dan itu termasuk dosa besar. Hidup dan mati itu adalah kuasa Tuhan Yang Maha Esa. Keputusan meminta euthanasia ini sama saja dengan bunuh diri, namun hanya eksekusinya saja yang berbeda, dan saya yakin di mata Tuhan akan mendapat dosa yang sama.Kembali lagi kenapa kita harus melarang, toh si penderitanya sendiri yang meminta, toh si penderitanya memang sudah benar-benar tidak kuat, sudah benar-benar menderita jika terus hidup dengan keterbatasan seperti itu, mengapa? Selain alasan yang saya sebutkan di atas tadi, alasan lain yaitu sesungguhnya banyak cara yang lebih bijak dalam menghadapi segala cobaan dalam hidup ini. Tuhan menganjurkan kita untuk selalu berusaha dan menjamin bahwa cobaan yang diberikan kepada umat-Nya tidak akan melampaui batas kemampuan umat-Nya itu sendiri. Dan percayalah, semakin banyak diri anda mendapatkan cobaan dalam hidup, menunjukkan semakin sayangnya Tuhan kepada diri anda. Setiap kali mendapatkan cobaan dalam hidup dan kita bisa melewatinya dengan sabar, tabah, bertawakkal dan berkhusnuzan kepada Tuhan kita, insya Allah derajat kita sedang ditinggikan oleh Tuhan YME! Jadi jika kita terus berusaha menghadapi dan menjalani apa yang menjadi cobaan hidup kita, percayalah balasannya akan lebih baik nantinya daripada kita menyerah dan memilih untuk mengakhiri hidup kita karena cobaan tesebut, sungguh akan merugi kita telah membuang kesempatan peninggian derajat kita di mata Tuhan dan malah membuat kita mendapatkan dosa besar dari – Nya.Lalu jika saya ditanyakan, apabila Ethan itu adalah bagian dari keluarga anda, apakah anda tega melihat anggota keluarga anda sendiri menderita seperti itu? Sungguh memang sangat sulit melihat anggota keluarga, orang yang kita cintai mengalami penderitaan yang sangat berat dalam hidupnya. Tetapi coba fikirkan, apa karena kita tidak tega, karena kita kasihan dengan dia, lalu kita mengizinkan adanya praktek euthanasia terhadap anggota keluarga kita tersebut? Kembali lagi, yang harus diingat, setelah meninggal di dunia itu ada kehidupan yang lebih kekal nantinya. Setelah di euthanasia, mungkin kita melihat anggota keluarga kita akhirnya bisa beristirahat dengan tenang, namun apakah ada yang tahu di kehidupan selanjutnya yang akan dia hadapi dia akan mendapat ketenangan juga? Euthanasia adalah tindakan bunuh diri dan dilarang oleh agama, dengan kita membiarkan anggota keluarga kita mendapatkan tindakan tersebut, sama saja kita membiarkan dia mendapatkan dosa besar dalam hidupnya. Lebih baik kita melihat dia menderita di dunia ini dan kita masih bisa membantunya, menemaninya, merawatnya, daripada kita membiarkannya meninggal dengan cara seperti itu, apabila nanti ternyata setelah meninggal dia akan menanggung apa yang dia harus tanggung karena melakukan tindakan euthanasia tersebut, apakah kita masih bisa membantunya? Apa kita masih bisa menemaninya? Sesungguhnya dia akan lebih menderita karena dia harus menanggung sendiri akibatnya. Di dalam Islam, orang yang meninggal sebelum takdirnya atau mengakhiri hidupnya dengan kehendaknya sendiri ataupun kehendak orang lain, rohnya akan terus berada di bumi ini sampai nanti waktu yang telah ditakdirkan sebenarnya oleh Tuhan untuk dia meninggal. Misalnya dalam takdir Tuhan seorang anak harus meninggal di umur 20 tahun, namun karena dia mengalami kecacatan, pada umur 9 tahun dia di suntik mati karena permintaan orang tuanya. Rohnya tidak akan langsung kembali ke sisi Tuhan setelah dia di suntik mati, namun harus menunggu selama 11 tahun ke depan, baru kemudian rohnya akan diterima di sisi Tuhan. Mengetahui itu, apakah kita masih tega melakukan euthanasia tersebut? Apakah kita tega membiarkan rohnya luntang-lantung di dunia ini? Jelas tidak.Kita sebagai keluarga, orang terdekatnya, yang terbaik yang harus dilakukan adalah terus menemaninya, berusaha meminimalisisasi kesedihan yang dirasakan olehnya. Selalu dibimbing dengan ajaran-ajaran agama yang Insya Allah bisa menguatkan dan menabahkan hatinya untuk selalu kuat dan senantiasa bertawakkal kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kalaupun memang nanti dia akhirnya harus meninggal, toh itu sudah menjadi takdirnya, bukan kita yang mendahului takdir Tuhan untuknya dengan meminta diadakannya praktek euthanasia tersebut. Dan yang harus kita percaya bahwa sesuatu yang tidak mungkin di dunia ini, akan bisa terjadi dengan kehendak Tuhan, jadi jangan pernah berhenti berusaha dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa.Lalu coba kita mengupas tokoh-tokoh yang tetap bisa berprestasi dengan kondisinya yang tidak normal, dan pada akhirnya mereka meninggal dengan tenang tanpa adanya praktek euthanasia itu. Tokoh-tokoh tersebut yaitu Christy Brown, seorang pengarang yang terkenal dengan autobiografinya yang berjudul “My Left Foot”. Dia juga merupakan seorang pelukis. Dia melakukan semua itu dengan kondisi tubuhnya yang mengalami cerebral palsy yang membuatnya tidak dapat bergerak dan berbicara secara normal, dan sampai umurnya 5 tahun ia hanya bisa menggerakkan kaki kirinya saja. Namun dengan bantuan ibunya yang selalu mengajarinya berbagai macam hal, dia bisa melewati semua itu. Ini membuktikan bahwa jika kita mau berusaha untuk menghadapi cobaan hidup, bukan tidak mungkin kenyataan yang akan kita hadapinya nanti justru lebih baik dari apa yang sedang kita alami hari ini.Tokoh lain yaitu Jean – Do adalah seorang Editor, penulis dan jurnalis kenamaan dari majalah Prancis ELLE. Pada tahun 1995, ia menderita serangan jantung yang sangat parah dan mengakibatkan ia jatuh ke dalam koma selama 20 hari. Setelah bangun dari koma, Ia mendapatkan dirinya menderita sebuah sindrom syaraf yang sangat langka bernama Locked In Syndrome. Sindrom ini membuat si penderita lumpuh dari ujung kepala hingga ujung kaki, namun tetap memiliki pikiran yang sadar. Dalam kasus ini, Jean-Do tetap dapat mengedipkan matanya.Mengabaikan kondisinya, Jean-Do tetap mampu menulis sebuah buku berjudul Diving Bell and the Butterfly dengan cara Mengedipkan matanya ketika penulis yang membantunya menunjuk huruf yang benar. Jean-Do harus mengedit dan mengarang buku tsb sepenuhnya dalam kepalanya, huruf demi huruf. Dan buku tersebut nyatanya bisa rilis dalam keadaannya yang seperti itu. Walaupun pada akhirnya 2 hari setelah buku tersebut rilis dia meninggal dunia, namun yang dapat dilihat bahwa tanpa putus asa dia terus mencoba berkarya dalam hidupnya. Dia menggunakan kesempatan semaksimal mungkin dalam hidupnya, sampai akhirnya dia meninggal karena takdirnya, dia telah menyaksikan bahwa buku yang ia susun dengan kondisinya yang tidak berdaya tersebut bisa dirilis.Jadi kesimpulannya, saya tidak menyetujui adanya praktek euthanasia ini karena yang jelas praktek ini sangat bertentangan dengan ajaran agama yang saya anut. Praktek euthanasia ini merupakan praktek yang dilakukan karena pemikiran yang sempit, dan rasa belas kasihan yang kurang tepat. Hadapi apa yang diberikan oleh Tuhan, jangan justru lari dari kenyataan. Terima KasihSumber mengenai euthanasia didapatkan dari website WikipediaEska Distia Permatasari101111217 / IKMB 2011 Pendapat Mengenai Euthanasia Saya SETUJU dengan adanya euthanasia khususnya EUTHANASIA PASIF bagi seorang yang memang menderita penyakint yang sudah tidak bisa disembuhkan dengan jalan apapun. Euthanasia merupakan istilah untuk pertolongan medis agar kesakitan atau penderitaan yang dialami seseorang yang akan meninggal dunia diperingan. Juga berarti mempercepat kematian seseorang yang ada dalam kesakitan dan penderitaan hebat menjelang kematiannya karena  penyakit yang dideritanya berkemungkinan besar untuk tidak dapat disembuhkan. Dalam praktik kedokteran, dikenal dua macam euthanasia, yaitu euthanasia aktif dan euthanasia pasif. Euthanasia aktif adalah tindakan dokter mempercepat kematian pasien dengan memberikan suntikan ke dalam tubuh pasien tersebut. Suntikan diberikan pada saat keadaan penyakit pasien sudah sangat parah atau sudah sampai pada stadium akhir, yang menurut perhitungan medis sudah tidak mungkin lagi bisa sembuh atau bertahan lama. Alasan yang biasanya dikemukakan dokter adalah bahwa pengobatan yang diberikan hanya akan memperpanjang penderitaan pasien serta tidak akan mengurangi sakit yang memang sudah parah. Adapun euthanasia pasif, adalah tindakan dokter menghentikan pengobatan pasien yang menderita sakit keras, yang secara medis sudah tidak mungkin lagi dapat disembuhkan. Penghentian pengobatan ini berarti mempercepat kematian pasien. Alasan yang lazim dikemukakan dokter adalah karena keadaan ekonomi pasien yang terbatas, sementara dana yang dibutuhkan untuk pengobatan sangat tinggi, sedangkan fungsi pengobatan menurut perhitungan dokter sudah tidak efektif lagi. Terdapat tindakan lain yang bisa digolongkan euthanasia pasif, yaitu tindakan dokter menghentikan pengobatan terhadap pasien yang menurut penelitian medis masih mungkin sembuh. Alasan yang dikemukakan dokter umumnya adalah ketidakmampuan pasien dari segi ekonomi, yang tidak mampu lagi membiayai dana pengobatan yang sangat tinggi. Alasan-alasan inilah yang digunakan sebagai dasar dalam terwujudnya euthanasia pasif, karena euthanasia pasif ini merupakan sebagian wujud dari rasa sayang kita terhadap seseorang, tidak mungkin ada yang tega melihat orang yang dicintai menderita. Selain itu dalam islam euthanasia pasif dianggap sebagai tidakan mengakhiri hidup dengan tidak mempergunakan alat-alat atau langkah-langkah aktif untuk mengakhiri kehidupan si sakit, tetapi ia hanya dibiarkan tanpa diberi pengobatan. Pasien dibiarkan begitu saja karena pengobatan tidak berguna lagi dan tidak memberikan harapan apa-apa kepada pasien. Pasien dibiarkan mengikuti saja hukum sunnatullah (hukum Allah terhadap alam semesta) dan hukum sebab-akibat. Secara medis, orang yang seperti ini sudah tidak mungkin sembuh dan jika dia hidup maka itu hanya akan menyiksa dirinya mengingat tubuhnya sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Dan satu-satunya alasan yang membuat dia masih hidup (tentunya setelah izin Allah) adalah adanya alat bantu pernafasan yang membuat dia masih bisa bernafas. Maka melihat kenyataan seperti itu, si dokter melepaskan alat bantu pernafasan tersebut sehingga akhirnya pasien meninggal karena memang sudah tidak bisa bernafas. Yang menjadi pedoman adalah dimana tidak ada kewajiban dalam islam dalam hal memperoleh dan mencari pengobatan, apalagi pengobatan yang memang tidak ada faedahnya, sehingga euthanasia ini insyaallah tidak akan menyalahi aturan agama islam. Seperti yang dilakukan oleh Dr. Jack Kevorkian yang dikenal sebagai “doctor death”kepada para pasien-pasiennya dan dalam kasus Terri Schiavo yang terjadi di Amerika.Dr. Jack Kevorkian yang diduga puluhan pasien telah “ditolong” oleh Kevorkian untuk menjemput ajalnya di RS tersebut. Dia menyatakan bahwa kematian adalah bukan perbuatan kriminal. Kevorkian berargumen apa yang dilakukannya semata-mata demi “menolong” mereka karena mereka yang meminta untuk di-euthanasia memang sudah tidak mampu disembuhkan dan hidupnya hanya ada pada alat-alat bantu medis saja.Selain itu euthanasia juga terjadi pada Terri Schiavo (usia 41 tahun) yang meninggal dunia di negara bagian Florida, 13 hari setelah Mahkamah Agung Amerika memberi izin mencabut pipa makanan (feeding tube) yang selama ini memungkinkan pasien dalam koma. Komanya mulai pada tahun 1990 saat Terri jatuh di rumahnya dan ditemukan oleh suaminya, Michael Schiavo, dalam keadaan gagal jantung. Setelah ambulans tim medis langsung dipanggil, Terri dapat diresusitasi lagi, tetapi karena cukup lama ia tidak bernapas, ia mengalami kerusakan otak yang berat, akibat kekurangan oksigen. Menurut kalangan medis, gagal jantung itu disebabkan oleh ketidakseimbangan unsur potasium dalam tubuhnya. Setelah Terri Schiavo selama 8 tahun berada dalam keadaan koma, maka pada bulan Mei 1998 suaminya yang bernama Michael Schiavo mengajukan permohonan ke pengadilan agar pipa alat bantu makanan pada istrinya bisa dicabut agar istrinya dapat meninggal dengan tenang, namun orang tua Terri Schiavo yaitu Robert dan Mary Schindler menyatakan keberatan dan menempuh langkah hukum guna menentang niat menantu mereka tersebut. Dua kali pipa makanan Terri dilepaskan dengan izin pengadilan, tetapi sesudah beberapa hari harus dipasang kembali atas perintah hakim yang lebih tinggi. Ketika akhirnya hakim memutuskan bahwa pipa makanan boleh dilepaskan, maka para pendukung keluarga Schindler melakukan upaya-upaya guna menggerakkan Senat Amerika Serikat agar membuat undang-undang yang memerintahkan pengadilan federal untuk meninjau kembali keputusan hakim tersebut. Undang-undang ini langsung didukung oleh Dewan Perwakilan Amerika Serikat dan ditandatangani oleh Presiden George Walker Bush. Tetapi, berdasarkan hukum di Amerika kekuasaan kehakiman adalah independen, yang pada akhirnya ternyata hakim federal membenarkan keputusan hakim terdahulu.Berdasarkan kedua contoh kasus di Amerika tersebut euthanasia memang merupakan solusi akhir untuk dan dirasa lebih menghormati seseorang yang memang sudah dalam keadaan koma dan otaknya sudah tidak mampu bekerja lagi sehingga tim medis menyatakan sangat tidak ada kemungkinan untuk sembuh. Mungkin sebagian orang menganggap bahwa ini adalah sebuah dosa besar, tetapi ketika usaha pengobatan terus dijalankan dan masalah ekonomi perlahan semakin membelit, apa yang bisa kita lakukan. Bahkan dalam pandangan islam pengobatanpun juga tidak diwajibkan apabila memang dalam pengobatan itu tidak ada faedahnya. Jadi dalam konteks ini saya setuju akan adanya eutanasia pasif pada penderita yang memang benar-benar tidak bisa disembuhkan.Mata Kuliah Filsafat                                                           FRANSISCA ANGGIYOSTIANA SIRAITNIM : 101111222 – IKMB 2011 I agree with Euthanasia !(dalam Kasus Film Guzaarish) 

  • Sikap (pendapat)

Secara harafiah, euthanasia berarti mati yang layak atau mati yang baik (good death) atau kematian yang lembut. Arti lainnya adalah kematian yang tenang tanpa penderitaan yang hebat.Setelah menonton film Guzaarish dengan pemeran utama seorang ahli sulap bernama Ethan Mascarenhas yang akhirnya menderita lumpuh dan tidak berdaya, akhirnya dalam kasus ini saya setuju dengan keputusan euthanasia yang diambil. Alasannya karena tindakan euthanasia tersebut dilakukan dengan persetujuan dan kemauan langsung dari pasiennya sendiri yang mengalami penderitaan dan dengan tujuan utama menghentikan penderitaan pasien. Salah satu prinsip yang menjadi pedoman adalah pendapat bahwa manusia tidak boleh dipaksa untuk menderita. Jadi, tujuan utamanya adalah meringankan penderitaan pasien. Selain itu dengan melihat kondisi penderitaan Ethan yang sangat menyiksa dan memang ia tidak dapat sembuh yang akhirnya  kematian menjadi jalan yang dipilih demi menghindari rasa sakit yang luar biasa dan penderitaan tanpa harapan karena sudah lelah hidup monoton hanya begitu saja dan tak berdaya. Setiap manusia memiliki pilihan yang bebas sebagai hak asasi, termasuk hak untuk hidup maupun atau mati. Jika pasien sudah sampai akhir hidupnya, ia berhak meminta agar penderitaannya segera diakhiri. Euthanasia hanya sekadar mempercepat kematiannya, sehingga memungkinkan pasien mengalami “kematian yang baik” tanpa penderitaan yang lama. Alasan lain adalah cara lega ketika kualitas hidup seseorang rendah, membebaskan dana medis untuk membantu orang lain, dan kasus lain dari kebebasan memilih.

  • Contoh (Kasus)

Kasus dr. Kevorkian dan dr. Cox. Pertama, terjadi di Amerika ketika seorang dokter bernama Jack Kevorkian mengaku bahwa sejak tahun 1990 ia telah membantu lebih dari 130 pasien dengan berbagai penyakit kronis untuk mengakhiri hidupnya (melakukan euthanasia). Kevorkian kemudian dijuluki sebagai dr. Death. Kontroversi terjadi. Ada yang mengutuk, tapi ada juga yang membelanya. Para pembela itu menyebut Kevorkian sebagai dokter yang menunjukkan belas kasihan mendalam dengan penderitaan para pasien.Kasus kedua, terjadi di Inggris tahun 1992 ketika dr. Nigel Cox mengakhiri hidup Lilian Boyes seorang pasien sekaligus teman baiknya selama 14 tahun dengan cara memberikan suntikan potassium chlorice. Dr. Cox mau melakukan itu karena ia sungguh-sungguh merasa iba dengan penderitaan sahabatnya itu karena sudah memohon terus menerus padanya. Pihak keluarga pasien malah memberikan pembelaan dan berpendapat bahwa dr. Cox telah merawat ibu mereka dengan sungguh-sungguh dan penuh kasih. Tetapi apa pun bentuk pembelaan, yang pasti kemudian dr. Cox diadili dan dijatuhi hukuman 12 bulan, hanya saja ijin prakteknya tidak dicabut. Ia tetap bisa menjalankan profesinya sebagai dokter.

  • Kesimpulan

Kedua contoh kasus di atas memperlihatkan kepada kita, betapa problematisnya soal euthanasia ini. Pada satu pihak kita bisa saja berada pada barisan orang-orang yang pro. Alasan yang biasa dikemukakan adalah tidak ada kesempatan hidup, biaya mahal bisa digunakan untuk yang hidup, penderitaan si pasien. Tetapi pada pihak lain kita juga bisa berada pada barisan orang yang kontra. Alasannya adalah apa pun yang namanya pembunuhan adalah pembunuhan dan itu dilarang oleh Tuhan sendiri. Namun, di beberapa negara sudah banyak terdengar suara yang pro-euthanasia. Mereka mengadakan gerakan yang mengukuhkannya dalam undang-undang misalnya di Belanda telah menerbitkan undang-undang yang mengizinkan euthanasia secara efektif berlaku sejak tanggal 1 April 2002, yang menjadikan Belanda menjadi negara pertama di dunia yang melegalisasi praktik euthanasia. Pasien-pasien yang mengalami sakit menahun dan tak tersembuhkan, diberi hak untuk mengakhiri penderitaannya. Dalam karangan berjudul “The Slippery Slope of Dutch Euthanasia” dalam majalah Human Life International Special Report Nomor 67, November 1998, halaman 3 melaporkan bahwa sejak tahun 1994 setiap dokter di Belanda dimungkinkan melakukan euthanasia dan tidak akan dituntut di pengadilan asalkan mengikuti beberapa prosedur yang telah ditetapkan. Prosedur tersebut adalah mengadakan konsultasi dengan rekan sejawat (tidak harus seorang spesialis) dan membuat laporan dengan menjawab sekitar 50 pertanyaan.Selain itu di Amerika. Euthanasia agresif dinyatakan ilegal dibanyak negara bagian di Amerika. Saat ini satu-satunya negara bagian di Amerika yang hukumnya secara eksplisit mengizinkan pasien terminal mengakhiri hidupnya adalah negara bagian Oregon. UU euthanasia ditetapkan pada tahun 1997 tentang kematian yang pantas (Oregon Death with Dignity Act). Sebuah lembaga jajak pendapat terkenal yaitu Polling Gallup (Gallup Poll) menunjukkan bahwa 60% orang Amerika mendukung dilakukannya euthanasia. Ada pula hukum di Luxemburg yang menyetujui tindakan euthanasia. Ketetapan ini baru diberlakukan 19 Februari 2008 yang lalu. Parlemen telah menyetujui UU yang mengatur euthanasia tersebut.Nama: Hikmawan SuryantoNIM: 101111152Kelas: IKMB 2011 EuthanasiaEuthanasia secara bahasa berasal dari bahasa Yunani eu yang berarti “baik”, dan thanatos, yang berarti “kematian”. Euthanasia artinya mati dengan baik, mati bahagia, mati senang, mati damai, mati tanpa penderitaan. Selain mati dengan baik, euthanasia bisa juga diartikan mati dengan belas kasihan(merciful death) dan mercy killing (dimatikan karena belas kasihan). Dari segi istilah, euthanasia mempunyai konotasi yang positif. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kematian tanpa penderitaan bahkan kematian yang membahagiakan. Memang alasan paling tua untuk euthanasia adalah mengingkari penderitaan, baik fisik maupun batin.Euthanasia sering dibedakan dua jenis. Euthanasia aktif dan euthanasia pasif. Euthanasia aktif artinya mengambil kehidupan seseorang dengan sengaja untuk mengurangi penderitaannya. Ada aspek kesengajaan mematikan orang tersebut, misalnya dengan menyuntikkan zat kimia tertentu untuk mempercepat proses kematiannya. Euthanasia pasif artinya membiarkan si sakit mati secara alamiah tanpa bantuan alat bantu seperti pemberian obat, makanan, atau alat bantu buatan. Tindakan tersebut dilakukan berdasarkan keyakinan dokter bahwa pengobatan yag dilakukan tidak ada gunanya lagi dan tidak memberikan harapan sembuh kepada pasien. Karena itu, dokter menghentikan pengobatan kepada pasien, misalnya dengan cara menghentikan alat pernapasan buatan dari tubuh pasien.Euthanasia dari sudut kemanusiaan dibenarkan dan merupakan hak bagi pasien yang menderita sakit yang tidak dapat disembuhkan. Namun dalam praktiknya dokter tidak mudah melakukan euthanasia, karena ada dua kendala. Pertama, dokter terikat dengan kode etik kedokteran bahwa ia dituntut membantu meringankan penderitaan pasien Tapi di sisi lain, dokter menghilangkan nyawa orang lain yang berarti melanggar kode etik kedokteran itu sendiri. Kedua, tindakan menghilangkan nyawa orang lain merupakan tindak pidana di negara mana pun.Pandangan Syariat IslamSyariah Islam mengharamkan euthanasia aktif, karena termasuk dalam kategori pembunuhan sengaja (al-qatlu al-‘amad), walaupun niatnya baik yaitu untuk meringankan penderitaan pasien. Hukumnya tetap haram, walaupun atas permintaan pasien sendiri atau keluarganya.Dalil-dalil dalam masalah ini sangatlah jelas, yaitu dalil-dalil yang mengharamkan pembunuhan. Baik pembunuhan jiwa orang lain, maupun membunuh diri sendiri. Misalnya firman Allah SWT :“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (untuk membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.” (QS Al-An’aam : 151)“Dan tidak layak bagi seorang mu`min membunuh seorang mu`min (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja)…” (QS An-Nisaa` : 92)“Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS An-Nisaa` : 29).Tidak dapat diterima, alasan euthanasia aktif yang sering dikemukakan yaitu kasihan melihat penderitaan pasien sehingga kemudian dokter memudahkan kematiannya. Alasan ini hanya melihat aspek lahiriah (empiris), padahal di balik itu ada aspek-aspek lainnya yang tidak diketahui dan tidak dijangkau manusia. Dengan mempercepat kematian pasien dengan euthanasia aktif, pasien tidak mendapatkan manfaat (hikmah) dari ujian sakit yang diberikan Allah kepada-Nya, yaitu pengampunan dosa. Rasulullah SAW bersabda,”Tidaklah menimpa kepada seseorang muslim suatu musibah, baik kesulitan, sakit, kesedihan, kesusahan, maupun penyakit, bahkan duri yang menusuknya, kecuali Allah menghapuskan kesalahan atau dosanya dengan musibah yang menimpanya itu.” (HR Bukhari dan Muslim).Adapun hukum euthanasia pasif, sebenarnya faktanya termasuk dalam praktik menghentikan pengobatan. Semua bergantung kepada pengetahuan kita tentang hukum berobat (at-tadaawi) itu sendiri. Yakni, apakah berobat itu wajib, atau sunnah. Namun terdapat hadits yang berbunyi“Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla setiap kali menciptakan penyakit, Dia ciptakan pula obatnya. Maka berobatlah kalian!” (HR Ahmad, dari Anas RA). Abdul Qadim Zallum (1998:69) mengatakan bahwa jika para dokter telah menetapkan bahwa si pasien telah mati organ otaknya, maka para dokter berhak menghentikan pengobatan, seperti menghentikan alat bantu pernapasan dan sebagainya. Sebab pada dasarnya penggunaan alat-alat bantu tersebut adalah termasuk aktivitas pengobatan yang hukumnya sunnah, bukan wajib. Kematian otak tersebut berarti secara pasti tidak memungkinkan lagi kembalinya kehidupan bagi pasien. Meskipun sebagian organ vital lainnya masih bisa berfungsi, tetap tidak akan dapat mengembalikan kehidupan kepada pasien, karena organ-organ ini pun akan segera tidak berfungsi.Berdasarkan penjelasan di atas, maka hukum pemasangan alat-alat bantu kepada pasien adalah sunnah, karena termasuk aktivitas berobat yang hukumnya sunnah. Karena itu, hukum euthanasia pasif dalam arti menghentikan pengobatan dengan mencabut alat-alat bantu pada pasien –setelah matinya/rusaknya organ otak—hukumnya boleh (jaiz) dan tidak haram bagi dokter.Berikut ini adanya alasan pro-euthanasia antara lain:

    1. Adanya hak moral bagi setiap orang untuk mati terhormat. Maka seseorang mempunyai hak memilih cara kematiannya.
    2. Euthanasia adalah tindakan belas – kasihan/kemurahan pada si sakit. Maka tidak bertentangan dengan peri-kemanusiaan. Meringankan penderitaan sesama adalah tindakan kebajikan.
    3. Euthanasia adalah juga tindakan belas kasih pada keluarga. Bukan hanya si sakit yang menderita, tetapi juga keluarganya. Meringankan penderitaan si sakit berarti meringankan penderitaan keluarga khususnya penderitaan psikologis.
    4. Euthanasia mengurangi beban ekonomi keluarga. Dari pada membuang dana untuk usaha yang mungkin sia-sia, lebih baik uang dipakai untuk keluarga yang masih hidup.
    5. Euthanasia meringankan beban biaya sosial masyarakat, bukan hanya dari segi ekonomi tetapi juga beban sosial misalnya dengan mengurangi biaya perawatan mereka yang cacat secara permanen.

Alasan kontra-euthanasia antara lain:

  1. Walaupun euthanasia dapat mengakhiri penderitaan, euthanasia tetaplah suatu pembunuhan. Kalau penderitaan diakhiri dengan euthanasia, itu sama artinya menghalalkan cara untuk tujuan tertentu. Rumus tersebut tidak bisa diterima secara moral.
  2. Manusia lebih berharga dari pada materi. Maka melakukan euthanasia demi untuk kepentingan penghematan ekonomi tidak dibenarkan secara moral

Oleh: Irma AnindaIKMB / 101111170FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKATUNIVERSITAS AIRLANGGA2011Saya tidak setuju dengan euthanasia. Dan terutama pada kasus dalam film Guzaaris.Karena merasakan kesedihan, penderitaan, merupakan salah satu esensi yang pasti ada dalam hidup siapapun. Tidak ada hidup yang indah selamanya, dan nyaman selamanya. Walaupun setiap orang memiliki kadar penderitaan dan cobaan yang berbeda-berda tergantung kemampuan mereka, tetapi cobaan itu pastilah memiliki tujuan. Memilih untuk mengakhiri hidup sama saja dengan menyerah kepada keadaan. Padahal menyerah bukanlah pilihan yang bijak. Dan bila ada yang mengatakan memberikan perawataan pada seseorang yang kemungkinan sembuhnya sangat kecil itu membuang waktu sehingga layak mendapat euthanasia, apakah berarti seorang kakek/nenek yang sudah sakit-sakitan dan akan segera meninggal layak mendapat euthanasia agar tidak kesakitan dan tidak menghabiskan banyak uang?Membahas tentang pendapat saya untuk tidak setuju pilihan untuk euthanasia tokoh utama dari film Guzaaris, dibebabkan beberapahal. Yaitu pertama, dia tetap mendapat pekerjaan meskipun memiliki kondisi lumpuh yaitu penyiar radio dan penulis buku. Yang kedua dia masi dapat berfikir, tidak seperti beberapa kasus pasien yang benar-benar koma tidak sadarkan diri selama bertahun-tahun. Dan yang ketiga, dia memiliki begitu banyak orang yang masih menyayanginya dan rela menggantikan ketidak mampuannya dan menerimanya apa adanya. Masih ada begitu banyak hal yang patut disyukuri oleh tokoh dalam film Guzaaris terlepas dari penyakit yang dideritanya. Siapapun, mahluk apapun di dunia ini, pada akhirnya akan menghadapi ajal mereka. Dan itu pasti. Cerita, kejadian, dan keadaan yang menghiasi hidup seseorang hingga ia menemui ajal adalah sesuatu yang pasti akan dirasakan. Dan apabila memang ingin menemui ajal, manusia hanya perlu satu hal. Yaitu bersabar.Tetapi, tidak ada hal yang pasti di dunia ini. Dan begitu banyak hal yang dapat berubah. Masalah benar atau tidaknya euthanasia tidak dapat diputuskan dari satu puhak saja. Karena masalah ini sangatlah kompleks, bergantung pada kondisi, situasi dan pemahaman masing-masing individu.PRIMASTUTI ROLINI PAMUNGKAS101111189/ IKMB 2011/72EUTHANASIA DIANGGAP PANTAS!Globalisasi yang ditandai dengan kemajuan cepat serta mendunia di bidang infromasi dan teknologi dalam dua dasawarsa terakhir, telah berpengaruh terhadap peradaban manusia melebihi jangkauan pemikiran sebelumnya. Pengaruh ini terlihat pada pergeseran tatanan sosial, ekonomi, dan politik yang memerlukan keseimbangan baru antara nilai-nilai, pemikiran, serta cara-cara kehidupan yang berlaku dalam konteks global dan lokal. Kondisi ini “menuntut” individu untuk memiliki kualitas daya saing, daya suai, dan kompetensi yang tinggi.Seiring dengan semakin meningkatnya tuntutan kuantitas dan kualitas hidup individu, manusia sebagai makhluk sosial tidak akan pernah terlepas dari berbagai masalah.  Masalah yang menimpa manusia terkadang membuat manusia menjadi frustasi, tak berdaya, nelangsa dan putus asa.  Bahkan tak jarang orang yang begitu banyak diterpa berbagai masalah hidup lebih memilih mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri karena tak kuasa menghadapi masalah tersebut. Hal ini diakibatkan oleh tidak adanya pengetahuan, ilmu, serta pengalaman, dalam menghadapi masalah.Euthanasia dianggap merupakan salah satu bentuk bantuan kepada orang-orang yang mempunyai masalah kesehatan yang memang benar-benar tidak dapat diusahakan lagi. Euthanasia menganggap kematian yang lebih baik daripada hidup. Beberapa kasus atau masalah yang di derita masyarakat dan terkadang harus membuat manusia ini melakukan euthanasia. Dalam penerapannya di kehidupan masyarakat di dunia banyak menjadikan kontroversi dari berbagai aspek kehidupan misalnya sari segi kemanusiaan, ekonomi, realigi, dan aspek-aspek yang lain yang mendorong seseorang melakukan Euthanasia.Dalam tugas filsafat kali ini membahas tentang film Gouzaris yang mempunyai lakon bernama Ethan yang diperankan oleh . Jalan cerita yang dapat di rangkum dari cerita tersebut adalah ada seorang laki-laki cacat dan lumpuh yang dulunya adalah seorang pesulap hebat bahkan telah menjadi master sulap. Namun naasnya suat ketika kecelakaan dalam adegan sulap terjadi karena salah satu pesulap yang lain iri terhadapnya sehingga karena kecelakaan tersebut Ethan harus duduk di kursi roda dan tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya kecuali kepala. Untungnya dia masih bisa berbicara dan mendapatkan pengasuh yang baik dan akhirnya akan menjadi istrinya semalam sebelum ia meninggal. Dia mengisi kegiatannya dengan mengisi siaran radio pribadinya. Setelah 14 tahun berlalu dia merasa muak dengan keadaannya dan akhirnya ia memutuskan untuk mengajukan eutanasia. Dalam pengajuannyaia dibantu oleh sahabatnya yang pada awalnya menentang Ethan untuk melakukan eutanasia. Permohonan eutanasia ditolak oleh pengadilan India karena dirasa melanggar hak asasi manusia. Ethan tidak menyerah dan mencari pendukungnya untuk eutanasia dalam siaran radionya. Namun banyak yang mengatakan tidak setuju dengan eutanasia yang di ajukannya. Setelah melalui proses panjang akhirnya  banyak juga yang mendukung pengajuaan eutanasianya. Akhir kisah diceritakan malam terakhir ia hidup dan menikah dengan perawatnya.Setelah wawancara narasumber tentang eutanasia yang terjadi dalam film gouzariz yang diajukan oleh Ethan, narasumber menyatakan TIDAK SETUJU dengan adanya eutanasia. Dia berpendapat misal dia dalam posisi Ethan mungkin dia akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Ethan. Namun dia sangat setuju dengan hgukum india yang tidak membolehkan Eutanasia. Dia menyatakan bahwa hidup itu anugrah dari Tuhan, seburuk apapun keadaannya, kita harus ikhlas dan percaya jikalau Tuhan mempunyai rencana sendiri dibalik semua itu. Bagaimanapun  juga eutanasia itu termasuk bunuh diri, bagaimanapun dan apapun alasannya manusia tidak berhak mengakhiri hidupnya atau hidup orang lain, karena hidup ini pemberian kemurahan Tuhan, dan Tuhan-lah yang berhak mengambilnya kembali. Dia juga mengusulkan kepada Ethan agar mengisi kegiatan-kegiatan dengan sesuatu yang tidak membuat bosan dan bermanfaat misalnya menulis buku tentang sulap, atau berkumpul dengan orang yang sama kekurangan sepertinya agar dapat saling menguatkan satu sama lain karena disini peran keluarga sangatleh penting untuk mengembalikan semangatnya yang dlu dan membuatnya bertahan selama 14 tahun. Dengan begitu dia akan merasakan hidup yang indah seperti dulu saat dia belum cacat fisik.Saya SETUJU dengan pendapat narasumber karena bagaimanapun dan apapun keadaannya hidup adalah pemberian Allah dan kita harus menghargai dan memanfaatkan karunia yang luar biasa tersebut. Kita tidak boleh semenah-menah dengan hidup ini dan yakin bahwa apa yang Allah tahu apa yang dibutukan hambanya dan Allah tidak akan menguji hambanya melebihi kemampuan hambanya. Oleh sebab itu kita harus memperkuat iman kita agar kita semakin percaya adanya Allah, tuhan yang sangat bijaksana dan menyayangi seluruh hambanya. Namun jika mendapatkan kasus lain misal ada seseorang yang telah koma lama bertahun-tahun, saya SETUJU dengan eutanasia yang diajukan oleh keluarganya. Tentunya keluarga yang melakukan pengajuan eutanasia pastinya mempunyai pertimbangan dan alasan yang kuat hingga tega melakukan eutanasia. Pertimbangan faktor kemanusiaan, faktor kasih sayang dan faktor ekonomi kemungkinan besar mendasari diputuskannya eutanasia. Jadi menurut saya eutanasia itu bisa dilaksanakan atau tidak, tergantung kasus yang terjadi, jika seseorang tersebut sudah tidak ada harapan hidup seperti pepatah “hidup segan mati tak mampu” maka untuk mengakhiri penderitaannya akan lebih baiknya jika dia lebih baik mati. Namun perlu di ingat eutanasia bisa dilaksanakan jika usaha dan doa telah dilakukan secara maksimal dan memang tidak bisa lagi diusahakan dan eutanasia dianggap jalan terbaik.Melihat orang tua dalam keadaan yang menyakitkan sangatlah mengharukan dan membuat kita berfikir untuk menggantikannya. Dalam kasus ini unsuk kemanusiaan dan ketegaan dimainkan. Karena melihat orang tua yang seolah-olah jika dia bisa mengatakan sesuatu maka ia akan mengatakan “anakku orang tuamu ini seperti pepatah hidup segan mati tak mampu” lalu apakah tidak sebaiknya euthanasia dijadikan pilihan yang tepabt dan terbaik untuk orang tua kita. Tidak budak bagi beliau menjalani hidup seperti itu, seakan-akan hanya bisa merasakan sakit dan mebiarkan penyakitnya semakin membuatnya sakit dan lama-lama organ yang ada didalam tubuhnya rusak dan memberikan efek sakit yang luarbiasa.Dengan situasi dan kondisi yang seperti tersebut diatas usaha tentunya tak henti-henti dilakukan guna mendapatkan penyembuhan yang bena-benar maksimal. Namun disaat semua usaha tersebut tidak menuai keberhasilan dan semakin membuat orangtua tersiksa maka eutanasialah solusi yang lebih baik daripada harus memperpanjang penderitaan orangtua. Bukan tidak menghargai hidup yang diberikan tuhan kepada hambanya, ini merupakan salah satu bentuk usaha terbaik guna mempermudah skaratul maut misal jika dia dipasangi dengan berbagai alat seperti pacu jantung, alat bantu pernafasan, alat pengejut jantung, membayangkan saja rasanya begitu sakit apalagi orangtua tersayang kita harus merasakan hal tersebut. Bukan tidak menyukuri kehidupan yang diberikan, lalu apakah kualitas hidup seperti ini yang harus dipertahankan. Kalau kemungkinan masih bisa di usahakan dan dipertahankan kesembuhannya harus dilakukan usaha yang maksimal terlebih dahulu sebelum akhirnya keputusan euthanasia untuk orang tua dengan mencopot alat-alat yang telah menyiksa tubuhnya dan membiarkan Tuhan yang memnentukan orang tua kita memang sudah waktunya kembali pada Nya. Segala sesuatu kehendak ada ditangan Tuhan, kita hanya bisa mengusahakan yang terbaik.Faktor lain yang menyebabkan anak akan memilih jalan ini adalah karena faktor ekonomi, jika dihitung dari pengorbanan orangtua yang luar biasa jasanya tentunya ini tidak sebanding. Untuk keluarga yang kaya raya tentunya berapapaun uangnya tak apalah, namun untuk kalangan rakyat biasa harus “ngoyo” dalam membiayai perawatan intensiv sedangkan kebutuhan yang lain guna kelangsungan hidup keluarga yang lain terbatas bahkan kurang. Jika hanya sehari dua hari masih bisa diupayakan dengan meminjam sana-sini namun sampaikapan hal ini akan berlanjut seperti ini? Tentunya saat menentukan harus meng-euthanasia orang telah dipikirkan secara global, jangka panjang atau masadepan, dan secara matang hingga keputusan yang dibuat bulat dan yakin bahwa orangtua kita akan setuju dengan kita dan itu merupakan jalan terbaik dan tidak lupa kita mendoakannya selalu.Nama : Shintia Yunita AriniNIM : 101111179EUTHANASIAMembunuh bisa dilakukan secara legal. Itulah euthanasia, pembuhuhan legal yang sampai kini masih jadi kontroversi. Pembunuhan legal ini pun ada beragam jenisnya.Euthanasia adalah tindakan mengakhiri hidup seorang individu secara tidak menyakitkan, ketika tindakan tersebut dapat dikatakan sebagai bantuan untuk meringankan penderitaan dari individu yang akan mengakhiri hidupnya.Ada empat metode euthanasia:

  • Euthanasia sukarela: ini dilakukan oleh individu yang secara sadar menginginkan kematian.
  • Euthanasia non sukarela: ini terjadi ketika individu tidak mampu untuk menyetujui karena faktor umur, ketidak mampuan fisik dan mental. Sebagai contoh dari kasus ini adalah menghentikan bantuan makanan dan minuman untuk pasien yang berada di dalam keadaan vegetatif (koma).
  • Euthanasia tidak sukarela: ini terjadi ketika pasien yang sedang sekarat dapat ditanyakan persetujuan, namun hal ini tidak dilakukan. Kasus serupa dapat terjadi ketika permintaan untuk melanjutkan perawatan ditolak.
  • Bantuan bunuh diri: ini sering diklasifikasikan sebagai salah satu bentuk euthanasia. Hal ini terjadi ketika seorang individu diberikan informasi dan wacana untuk membunuh dirinya sendiri. Pihak ketiga dapat dilibatkan, namun tidak harus hadir dalam aksi bunuh diri tersebut. Jika dokter terlibat dalam euthanasia tipe ini, biasanya disebut sebagai ‘bunuh diri atas pertolongan dokter’. Di Amerika Serikat, kasus ini pernah dilakukan oleh dr. Jack Kevorkian.

Dibeberapa Negara di dunia ini sudah ada yang melegalkan euthanasia dan ada yang masih mengillegalkan euthanasia.Contoh Negara yang melegalkan euthanasia adalah swiss.Di Swiss, obat yang mematikan dapat diberikan baik kepada warga negara Swiss ataupun orang asing apabila yang bersangkutan memintanya sendiri. Secara umum, pasal 115 dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana Swiss yang ditulis pada tahun 1937 dan dipergunakan sejak tahun 1942, yang pada intinya menyatakan bahwa “membantu suatu pelaksanaan bunuh diri adalah merupakan suatu perbuatan melawan hukum apabila motivasinya semata untuk kepentingan diri sendiri.”Pasal 115 tersebut hanyalah menginterpretasikan suatu izin untuk melakukan pengelompokan terhadap obat-obatan yang dapat digunakan untuk mengakhiri kehidupan seseorang.Contoh Negara yang mengillegalkan euthanasia adalah Indonesia. Berdasarkan hukum di Indonesia maka eutanasia adalah sesuatu perbuatan yang melawan hukum, hal ini dapat dilihat pada peraturan perundang-undangan yang ada yaitu pada Pasal 344 Kitab Undang-undang Hukum Pidana yang menyatakan bahwa “Barang siapa menghilangkan nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri, yang disebutkannya dengan nyata dan sungguh-sungguh, dihukum penjara selama-lamanya 12 tahun”. Juga demikian halnya nampak pada pengaturan pasal-pasal 338, 340, 345, dan 359 KUHP yang juga dapat dikatakan memenuhi unsur-unsur delik dalam perbuatan eutanasia. Dengan demikian, secara formal hukum yang berlaku di negara kita memang tidak mengizinkan tindakan eutanasia oleh siapa pun. Ikatan Dokter Indonesia (IDI)menyatakan bahwa : Eutanasia atau “pembunuhan tanpa penderitaan” hingga saat ini belum dapat diterima dalam nilai dan norma yang berkembang dalam masyarakat Indonesia. “Euthanasia hingga saat ini tidak sesuai dengan etika yang dianut oleh bangsa dan melanggar hukum positif yang masih berlaku yakni KUHP.Menurut pandangan agama islam, Islam mengakui hak seseorang untuk hidup dan mati, namun hak tersebut merupakan anugerah Allah kepada manusia. Hanya Allah yang dapat menentukan kapan seseorang lahir dan kapan ia mati.Oleh karena itu, bunuh diri diharamkan dalam hukum Islam meskipun tidak ada teks dalam Al Quran maupunHadis yang secara eksplisit melarang bunuh diri.Eutanasia dalam ajaran Islam disebutqatl ar-rahmah atau taisir al-maut (eutanasia), yaitu suatu tindakan memudahkan kematian seseorang dengan sengaja tanpa merasakan sakit, karena kasih sayang, dengan tujuan meringankan penderitaan si sakit, baik dengan cara positif maupun negatif.Jika menurut pendapat saya pribadi,saya sangat menentang adanya euthanasia,karena yang berhak menentukan utuk kita hidup atau mati adalah Tuhan,bukan diri kita sendiri ataupun orang lain.Saya percaya adanya suatu keajaiban yang bisa datang sewaktu-waktu,melakukan euthanasia bagi saya hanya dilakukan bagi orang-orang yang mudah putus asa,jika karena alasan kasih sayang tidak tega melihat korban menderita,tapi apakah setiap penderitaan itu akan berakhir dengan adanya kematian,kita tidak tahu bukan apa yang terjadi setelah korban di euthanasia,apakah dia akan bahagia atau bahkan lebih menderita,jika alasannnya karena dana,Tuhan memberikan cobaan kepada manusia itu tidak mungkin diluar batas kemampuan umatnya,pasti ada jalan,selama kita mau berusaha dan yang terpenting ada niat.Tapi ketidak setujuan saya dengan euthanasia ini ada pengecualiannya,jika korban sudah koma bertahun-tahun,fungsi organ tubuhnya sudah tidak berfungsi,selama ini bisa bertahan hidup karena sepenuhnya bergantung pada alat-alat kedokteran,meskipun agak berat saya setuju dilakukan euthanasia untuk kasus yang seperti ini.Setelah saya melihat film Guzaarish,dan mengamati kasus yang dialami oleh Ethan,untuk kasus yang seperti ini saya kembali kepernyataan awal saya,saya tidak setuju dilakukan euthanasia kepada Ethan,sekalipun dia sendiri yang secara sadar memintanya,meskipun dia lumpuh total,luka ditubuhnya tidak sembuh-sembuh,tapi dia masih bisa bicara,dia bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang yang mengalami penderitaan seperti dia,dia juga tidak sendirian banyak orang yang begitu peduli,sayang,dan dengan setia selalu menjaga dan merawatnya.Jika ketika banyak orang yang kontra akan keputusannya itu dia mengatakan orang tersebut tidak merasakan bagaimana menderitanya menjadi dia,berjuang selama belasan tahun bertahan hidup dan sekarang dia sudah lelah,maka apakah dia tidak sadar bahwa meskipun demikian dia masih bisa berguna bagi banyak orang,ketika Tuhan belum menghendaki dia untuk mati,berarti Tuhan masih yakin dia mampu melewati hari-harinya meskipun dengan segala keterbatasan yang dia alami.Karena bukan berarti dengan mengakhiri kehidupannya maka segala penderitaannya selama belasan tahun itu akan berakhir,masih ada dunia yang lain,selain dunia yang sekarang kita pijakSaya setuju dengan adanya praktik euthanasia dengan catatan pengajuanya atas permintaan pasien sendiri atau pihak keluarga dikarenakan pasien mengalami gangguan sistem tubuh yang mengakibatkanya koma berkepanjangan.euthanasia (Bahasa Yunani: ευθανασία -ευ, eu yang artinya “baik”, dan θάνατος, thanatos yang berarti kematian) adalah praktik pencabutan kehidupan melalui cara yang dianggap tidak menimbulkan rasa sakit atau menimbulkan rasa sakit yang minimal.Euthanasia terbagi menjadi beberapa bentuk.Aktif,dokter atau tenaga langsung dan sengaja menyebabkan kematian pasien misalnya menyuntikkan zat-zat mematikan pada tubuh pasien.Pasif,pasien meninggal karena para profesional medis tidak melakukan sesuatu yang diperlukan untuk menjaga pasien tetap hidup atau menghentikan melakukan sesuatu yang menjaga agar pasien tetap hidup seperti melepas pipa makanan.Sukarela,peminta tindakan euthanasia adalaha pasien sendiri dan kemauan pasien.non Sukarela,permintaan tindakan euthanasia bukan dari pasien langsung, Di dunia sudah sering terjadi kasus euthanasia,namun sayangnya hanya beberapa yang di ekspos media.Hal ini dikarenakan juga karena adanya kode etik privacy pasien.siapapun entah keluarga maupun dokter tidak boleh membocorkan praktik euthanasia kepada siapapun karena bersifat sangat rahasia.contoh adanya praktik euthanasia yaitu terjadi di Florida pada tahun 1998.Terri Schiavo (usia 41 tahun) meninggal dunia setelah pipa makananya di cabut.sebelum meninggal ia mengalami koma berkepanjangan selama 8 tahun.ia hanya mengandalkan hidupnya dari pipa makanan tersebut nyaris seperti orang mati yang dipaksakan untuk hidup atau juga bisa disebut mayat hidup.Ia tak dapat berbicara,bergerak, karena semua sistem motorik maupun sensoriknya telah tak berguna yg disebabkan kerusakan otak yang berat.Kasus Terri Schiavo ini merupakan contoh dari praktik euthanasia atas permintaan keluarga.Lain halnya dengan yang terjadi di Australia.Kamis 22 january 2006,Janet Mills(52 tahun) memilih mengakhiri hidupnya dengan jalan euthanasia.Janet mengidap penyakit mycosis fungoides yang membuatnya merasa gatal-gatal diikuti dengan rontoknya kulit,bau busuk dan sehingga sprei yang dijadikan alas tidur penuh darahDua contoh tersebut menggambarkan bagaimana perlunya praktik euthanasia.Untuk khasus Terri Schiavo yang selama 8 tahun Terry hanya terbaring seperti mayat hidup dikarenakan keadaanya koma.Bisa anda bayangkan betapa berat beban ekonomi yang harus di emban keluarga khususnya sang suami,harus membayar sewa kamar Rumah Sakit,biaya alat,dan biaya dokter selama 8 tahun lamanya.Belum lagi beban moral yang harus keluarga terima mendapati keluarganya seperti hidup namun tak hidup.Selain itu juga keadaan Terry tersebut juga dapat merugikan pasien lain yg juga memerlukan perawatan..,kamarnya yang seharusnya dapat digunakan bergantian dengan pasien pasien yang lain menjadi tidak bisa.Sedangkan kasus Janet Mills yang melakukan euthanisia sukarela,ia melakukan praktik tersebut atas permintaan dia sendiri.Jalan yg ia pilih merupakan Haknya,hak untuk menentukan diri sendiri (the right of self determination/TROS) dan kita siapapun tidak bisa membatasi Hak Asasi Manusia..Dengan kemauanya sendiri,maka ia memang benar-benar merasakan sakit yang luar biasa menyiksa.Dengan mempertimbangkan aspek beban ekonomi,moral,medis,hak untuk menentukan dirinya sendiri serta adanya Surat Edaran IDI No.702/PB/H2/09/2004 yang hanya melarang euthanasia aktif dan memperbolehkan euthanisia pasif.Kesimpulanya menurut saya praktik euthanasia boleh saja dilakukan dengan catatan pengajuanya atas permintaan pasien sendiri atau pihak keluarga dikarenakan pasien mengalami gangguan sistem tubuh yang mengakibatkanya koma berkepanjangan.”It’s Been My Pleasure TeKeep Critical You Guysaching Philosophy Class With You All…Keep Critical Guys!”


date Posted on: Selasa, Maret 27, 2012 at 2:38 pm
Category Philosophy of Life.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.

You can leave a response, or trackback from your own site.



2 Responses to “Euthanasia”

  1. nurul

    terimakasih ini sangat membantu, saya sedang mengerjakan prposal mengenai euthanasia. kalau proposal saya di trima boleh saya minta bantuan yah bertanya seputar euthanasia ?

    Desember 24th, 2016 at 12:53 pm
     
  2. twitter free followers

    You need to count free twitter followers online for get extra twitter followers you need to follow this account.

    Desember 17th, 2017 at 12:43 am
     

Leave a Reply


Trias’ is powered by WordPress
Theme is Coded&Designed by Wordpress Themes at ricdes
Archived by WP Themes