« PKL Bukan Sekedar Bersihin GOT! Paradigma Sehat Dalam Public Health »

Kasih Ibu Sepanjang Jalan

Maret
27th
member
trias

“Ass..Selamat pagi pak trias..Apa kabar bapak? Lama ya pak ga ketemu n ngobrol haha.. Pak saya mnt ijin besok saya mau PKL.. Minta doanya ya pak :D .. Slm buat istri n anak ya pak :D” (Ananda)Sebagai seorang ayah, saya merasa trenyuh, bahagia dan bersyukur bahwa walau hanya seorang, masih ada anak saya yang masih “nguwongne” dengan meminta ijin dan dido’akan ketika akan melaksanakan sesuatu yang besar yaitu melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang saya sebut sebagai the Hearth of S.KM Training.“Berangkatlah anakku…semoga engkau mendapatkan pembelajaran dan pengalaman yang berharga untuk hidupmu kelak jagalah kesehatan. Kita bisa membantu masyarakat untuk mempertahankan kesehatannya apabila diri kita juga sehat…do’a ayah selalu menyertaimu…”(Ayahanda)Saat itu pagi sekitar pukul 09.00 wib keesokan hari setelah mahasiswa PKL diterjunkan di Kab. Probolinggo, salah satu kolega dosen mendatangi ruangan saya dengan tersenyum dengan agak memendam “kegemasan”. Bukan gemas terhadap saya namun kepada anak saya yang dua hari sebelumnya minta ijin dan dido’akan itu.“Anakmu iku yas…yok opo seh…manja banget! Kelompok lain lho nggak ada yang dikawal orang tuanya saat penerjunan PKL…mosok anakmu ditutne ibuke sampe teko pondokan. Sak kelompok lho onok 5 mobil…piye arek-arek iki. Wes ngono tekan lokasi ibuke nesu-nesu karo pembimbing masalah penginapan yang nggak layak…Awake dhewe iki lak Kesmas sing pingin ngatasi masalah masyarakat neng kono..yo emang ndeso ngono…omongono ta?” (Kolega)SPEECHLESS saya mendengar pengaduan kolega saya…pikiran saya mencoba mencerna bahwa sang Ibu yang mengantar anak ke tempat PKL tentu sangat sayang dan tidak ingin bahwa anaknya mengalami kesusahan selama di desa. Mungkin sebagai ayahnya selama ini saya kurang menyadarkan apa itu Public Health, bagaimana proses pendidikan utamanya saat PKL dan gambaran kerjanya dimasa datang jika sesuai dengan jalur keilmuan PH. Kesesahan dan tantangan yang dihadapi selama PKL itu adalah bagian dari proses pembelajaran dan tempaan pengalaman yang akan menjadi kenangan manis dan sebuah kisah klasik dimasa datang. Menurut saya, kita tidak bisa menyalahkan Kasih Ibu Sepanjang Jalan Kampus Hingga Probolinggo, hanya saja sebagai ayah saya merasa harus banyak introspeksi bahwa saya telah GAGAL dalam memberikan gambaran sebenarnya tentang tetek bengek Kesehatan Masyarakat. Andai anak saya itu telah faham tentang konsep PH, maka anak itulah yang pertama sekali HARUSNYA bisa menjadi advocae untuk sang bunda bahwa dengan PKL kita harus bisa memahami dan bahkan MERASAKAN apa yang dialami oleh masyarakat tempat PKL kita. Dalam NOTE saya sebelumnya “Salud Para El Pueblo” dengan jelas saya tulis kita harus bisa “LEARN TO SEE THINGS WITH THEIR EYES, HEAR THEIR IDEAS, AND UNDERSTAND THEIR NEEDS”Memang benar bahwa dalam Kesehatan Masyarakat juga terdapat pembelajaran tentang institusi semisal Rumah Sakit, Puskesmas, Dinas Kesehatan, Pabrik, PDAM, LSM dll, namun hal itu akan lebih banyak dipelajari selama kegiatan Magang. Sedangkan di PKL ini lebih banyak bagaimana kita bisa mengidentifikasi kharakterisik masyarakat, mengidentifikasi masalah kesehatan yang mereka alami berikut masalah sosial budaya yang melekat didalamnya agar kita nantinya bisa memberdayakan masyarakat agar mampu menjaga kesehatan mereka sendiri. Untuk itu mencapai hal itu dibutuhkan kedekatan dengan masyarakat anakku…Bagaimanapun juga kita ini orang asing di desa tempat PKL kita, warga yang kita TANYA-TANYA mungkin bisa menerima kita, menjawab pertanyaan kita, namun apakah jawaban yang mereka sampaikan itu benar apa adanya jika kita TETAP memposisikan diri sebagai orang luar yang “SOK MAMPU” mengatasi masalah kesehatan mereka? Posisikan diri kita sebagai bagian dari masyarakat itu, cobalah untuk mengasah indera kalian agar lebih EMPATIK dan PEKA terhadap masalah kesehatan yang ada dan memahami masyarakat itu secara utuh MELEKAT pada lingkungan, alam, fisik maupun sosialnya. Ketika PKL akan lebih memudahkan kita apabila kita bisa membaur dengan warga dengan tinggal disana, makan, minum dan tidur di tempat yang mereka juga tempati. Memang aspek KESEHATAN harus kita utamakan, sederhana namun sanitasinya bagus tidak harus mewah anakku.Sebagai ayah walimu…ada beberapa petuah yang ingin ayah sampaikan, bukan hanya untukmu, namun kasusmu ini bisa menjadi pembelajaran untuk ayah yang akan terus mempunyai tambahan anak setiap tahunnya.1.      Pahamkan dirimu tentang apa itu Kesehatan Masyarakat dan mengapa ayahmu ini sampai menganggap PKL sebagai the Hearth of S.KM Training.2.      Setelah faham, yakinkan bundamu bahwa kamu disana tidak untuk menderita, namun untuk memperkaya kemampuanmu baik SOFT SKILL maupun HARD SKILL terkait Kesehatan Masyarakat. Sekali lagi, semakin berat ujian yang engkau hadapi di lapangan akan semakin memperkilap cahaya pengalaman, pengetahuan dan kemampuanmu untuk hidup dengan berbagai macam tipe orang dari latar belakang apapun.3.      Segera kembali ke lokasi PKL4.      Minta maaf kepada pembimbing bukan untuk merendahkan diri namun karena sebelumnya engkau belum memahami apa itu PH dan PKL5.      Minta maaf kepada teman sekelompok dengan berperen aktif dalam setiap kegiatan. Berat memang, namunorang yang mau mengakui kesalahan dan menebusnya dengan memberikan effort yang lebih tentu akan mampu menghapus luka.6.      Enjoy your experience dan tetap jaga kesehatan. Kalau suatu saat selama PKL engkau merasa BERAT, CAPEK…ingatlah bahwa kamu melakukan ini untuk masa depanmu, untuk membahagiakan bunda dan ayah juga. Ingatlah perjuangan mereka sehingga engkau bisa seperti saat ini…tunjukkan bahwa engkau MAMPU melakukan ini, menghadapi tempaaan hidup, cobaan dan rintangan untuk kesuksesanmu kedepan. Jika belum berhasil…anggaplah PKL sebagaimana reality show semisal LOST atau SURVIVOR…PKL lebih indah dari itu suatu saat setelah semua itu selesai.Mungkin kelak setelah lulus jadi S.KM engkau tidak akan bekerja di LSM atau Dinas Kesehatan yang mengurusi masyarakat selayaknya saat PKL…mungkin engkau akan menjadi pegawai Bank atau do’a ayah agar engkau menjadi Selebriti yang sukses…namun satu hal yang ayah harap engkau menjadi Selebriti yang mengerti dan berjiwa PH dan mampu memanfaatkan ketenaranmu itu untuk membangun Kesehatan Masyarakat Indonesia. Namun saat ini, melalui PKL-lah…jiwa dan kecintaanmu akan PH itu disemai agar pada saatnya mampu ditauai dengan baik 1 tahun lagi.Maafkanlah ayahmu ini yang kurang memberikan PENCERAHAN selama ini, tentang apa itu Kesehatan Masyarakat, tentang apa itu PKL. Ayah berharap semoga sinyalemen ayah bahwa semakin banyak mahasiswa PH yang HEDON dan masuk PH hanya untuk status MAHASISWA UNAIR tidaklah terbukti. Karena ayah berharap semua anak-anak ayah akan JATUH CINTA dan BERJIWA PH.Sabar anakku…:D


date Posted on: Selasa, Maret 27, 2012 at 2:30 pm
Category Purple Love.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.

You can leave a response, or trackback from your own site.



Leave a Reply


Trias’ is powered by WordPress
Theme is Coded&Designed by Wordpress Themes at ricdes
Archived by WP Themes