« Kasih Ibu Sepanjang Jalan Euthanasia »

Paradigma Sehat Dalam Public Health

Maret
27th
member
trias

 Tuesday, November 8, 2011

Judul diatas merupakan materi presentasi Temu Ilmiah Bulanan Dosen dengan pimpinan FKM Unair, insyaAllah Kamis siang ini yang akan dipaparkan oleh Ayahanda Dr. Rachmat Hargono, dr., MS, MPH. Ketika mendapatkan surat undangan saya sedikit mengernyitkan dahi, apakah benar ini judul yang akan Ayahanda sampaikan ataukah mungkin beliau yang mengkonsep atau menulis surat salah mempersepsikan isi materi yang akan disampaikan. Saya merasa janggal karena Public Health tentulah menggunakan paradigma sehat, atau saya yang masih perlu pencerahan bahwa ada paradigma lain yang digunakan dalam kajian Public Health selain paradigma sehat.

 

Apa sebenarnya paradigma sehat itu?i petikan dari beberapa penjelasan dalam SK Menkes tentang Pencapaian Indonesia Sehat “Berdasarkan pemahaman situasi dan adanya perubahan terhadap konsep sehat –sakit serta makin kayanya khasanah ilmu pengetahuan dan informasi tentang determinan kesehatan yang bersifat multifaktural, telah mendorong pembangunan kesehatan nasional kearah paradigma baru, yaitu pardigma sehat. Paradigma adalah pemikiran dasar sehat, berorientasi pada peningkatan dan perlindungan penduduk sehat dan bukan hanya penyembuhan orang sakit, sehingga kebijakan lebih ditekankan pada upaya promotif dan preventif dengan maksud melindungi dan meningkatkan orang sehat menjadi lebih sehat dan lebih produktif  serta tidak jatuh sakit karena adanya upaya preventif. Sehingga perlu diupayakan semua policy pemerintah  selalu berwawasan kesehatan dengan mottonya menjadi “ Pembangunan Berwawasan Kesehatan””

 

Salah seorang alumni telah men-chalenge Ayahanda Dr. Rachmat Hargono tentang fakta bahwa sebagai fakultas kesehatan masyarakat yang mengedepankan paradigma sehat, ternyata skripsi, thesis atau disertasi masih menggunakan “paradigma sakit” dengan menunjukkan “besaran masalah kesehatan” dengan prevalensi, incidence dll. Rekan S.KM kita ini mengusulkan agar penelitian2 mahasiswa diarahkan pula pada Ruh atau Jiwa Paradigma sehat tersebut, sehingga Bab I dalam TA, Skripsi, Thesis atau Disertasi tidak terkesan mengedepankan pentingnya “paradigma sakit”

 

Menanggapi hal ini, saya mempunyai pandangan yang berbeda terkait dengan penulisan TA, Skripsi, Thesis maupun Disertasi. Dari apa yang saya pahami, secara Epistemologi, Ilmu berawal dari perkembangan atau pembuktian secara ilmiah dari suatu pengetahuan yang sifatnya psikologis subjektif menjadi sesuatu yang hipotesisnya telah teruji kebenarannya sehingga menjadi ilmu yang bersifat objective universal melalui tahapan yang sistematis. Suatu Ilmu selalu berawal dari pemikiran mendasar untuk mencari kebenaran yang hakiki, dimana tidak terdapat keselarasan antara Das Solen (The Ideal World) dengan Das Sein (The Fact). Suatu bentuk TA, Skipsi, Thesis atau Disertasi merupakan tahapan Epistemologi Ilmu dalam pembuktian kesahihan pengetahuan sementara untuk menjadi ilmu yang diterima secara luas sebelum kemudian hari dipatahkan karena adanya kritik yang tidak terjawab dari ilmuitu untuk kemudin diuji kembali…on..and ..on..

 

Nah, menurut pendapat saya pada Bab awal penulisan penelitian, TA, Skripsi, Thesis atau Disertasi haruslah menuangkan adanya suatu alasan mendasar mengapa penelitian itu perlu dilakukan, utamanya penggambaran ketidaksinkronan antara Das Solen dan Das Sein. Memahaminya mungkin mudah dengan membandingkan fakta bahwa trend, incidence, prevalence yang cenderung meningkat untuk suatu penyakit ketika harapan ideal kita adalah terjadi penurunan atau zero case. Hal ini yang disebut oleh BLACKY sebagai paradigma sakit. Namun paradigma sehat juga bisa diperlakukan serupa yang penting kita harus mempunyai suatu ukuran yang reliable terkait dengan definisi sehat itu sendiri sebagai gambaran Das Solen. Semisal idealnya masyarakat sehat harus melakukan semua 13 pesan dasar gizi seimbang maka itu kita jadikan patokan untuk melihat layak tidak suatu hal itu kita angkat sebagai kajian penelitian. Kalau dari 13 pesan dasar gizi seimbang yang melakukan hanya 70% populasi maka masalah kenapa tidak 100%, atau kenapa pesn ke 13 tidak dijalankan sebagian besar populasi misalnya. Kalau Das Solen dan Das Sein sudah setara, semua orang (100%) sudah menerapkan 13 pesan dasar gizi seimbang maka apakah sumbangan penelitian yang dilakukan untuk membangun ilmu pengetahuan yang baru? Bukankah ada hal yang lebih penting untuk dilakukan? Secara Aksiologis hal ini menurut saya suatu hal yang mubadzir…mungkin benar sebagai kajian dialektika, debat atau pemikiran filsafat, namun tidak untuk ditingkatkan menjadi suatu penelitian.

 

Intinya, saya setuju dikembangkannya indikator paradigma sehat sebagai ukuran yang jelas untuk kemudian dipakai sebagai dasar pembuatan TA, Skripsi, Thesis atau Disertasi, namun pendekatan untuk mencari kebenaran ilmiah harus tetap menggunakan kaidah Epistemologi Ilmu yang Deducto-Hypotetetico-Verificatio.

 

Sumonggo dikomentari, semoga bisa menjadi diskursus yang akan mencapai puncaknya Kamis siang saat Ayahanda Dr. Rachmat Hargono memaparkan dalam forum ilmiah dosen-pimpinan.


date Posted on: Selasa, Maret 27, 2012 at 2:35 pm
Category Purple Love.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.

You can leave a response, or trackback from your own site.



Leave a Reply


Trias’ is powered by WordPress
Theme is Coded&Designed by Wordpress Themes at ricdes
Archived by WP Themes