« Salud para el Pueblo (Part 1) PKL Bukan Sekedar Bersihin GOT! »

Salud para el Pueblo (Part 2 - Finale)

Maret
27th
member
trias

Friday, June 24, 2011.

(…the Story Continued) Dalam bukunya Conant & Fadem (2008) menjelaskan ada 3 hal yang membuat Salud para el Pueblo berhasil menghentikan wabah kholera dan menurunkan prevalensi masalah kesehatan lainnya, yaitu:

1.       Worked with people in their home

Para pejuang kesehatan Salud para el Pueblo melatih warga tentang pentingnya menjaga supply air bersih DARI RUMAH KE RUMAH. Hal ini membantu para PEJUANG KESEHATAN untuk belajar memahami permasalahan lain yang ada di warga serta utamanya GAIN TRUST in the community. Sweeeett..!!!

2.       Brought many groups together

 ini juga menggandeng banyak pihak, mulai pemerintah setempat, LSM lokal dan NGO asing. Dengan bekerjasama, dapat dihindarkan suatu organisasi mengerjakan pekerjaan yang sama atau bekerja berlawanan satu sama lain.

3.       Valued people as the most important resourse

Menurut saya ini hal terpenting dari Salud para el Pueblo yang mungkin bisa menjadi inspirasi bagi Pejuang Kesehatan di Kab. Probolinggo nantinya. Pejuang Kesehatan Salud para el Pueblo tidak MENYALAHKAN warga desa terkait dengan masalah kesehatan yang ada, mereka juga TIDAK bergantung pada bantuan dari pihak luar. Mereka menggunakan People’s own experience untuk bekerja mencapai tujuan yang sama yaitu memerangi kholera. Mereka menggunakan games, puppets, songs, discussions dan popular education activities untuk membuat warga berkumpul bersama sehingga WARGA dapat berbagi pengetahuan dan kemampuan mereka. Aktivitas seperti ini akan dapat membangun SELF-CONFIDENCE dan MOTIVASI dimana WARGA dapat melihat dan menyadari bahwa PENGETAHUAN dan PARTISIPASI MEREKA SENDIRI dapat mengatasi masalah kesehatan yang serius.

 

Lambat laun Pejuang Kesehatan Salud para el Pueblo kita menyadari bahwa disease-carrying insect menetas dan berkembangbiak di sampah dan tumpukan sampah. Kemudian mereka mengadakan community meeting untuk mengajak warga bahu membahu membersihkan jalan dan mengelola sampah dengan baik. Kemudian forum membentuk “environment health promoter” yang mengorganisir pekerjaan warga untuk pengumpulan sampah. Dibantu oleh insinyur lokal, Pejuang Kesehatan kita menginisiasi pembuatan Sanitary Landfills. Beberapa tahun kemudian Pejuang Kesehatan kita menggulirkan wacana tentang Recycling Program untuk mengurangi tumpukan sampah pada Sanitary Landfills. Saat ada donor asing memberikan hibah berupa Truk Sampah, mereka dapat melakukan hal tersebut. Uang yang didapatkan dari recycling digunakan untuk membayar solar dan biaya perawatan truk.

 

Hingga tahun 1996, Salud para el Pueblo telah membangun ratusan toilet, installed many piped water systems, 2 sanitary landfills, menjalankan recycling program dan mulai membantu warga plant community gardens.

 

Kemudian tahun 1997, bencana El Nino melanda daerah pantai Ekuador. Selama 6 bulan yurun hujan disertai angin HAMPIR SETIAP HARI. Angin yang kencang menumbangkan pohon, hujan membuat bagian dataran tinggi menjadi lumpur yang kemudian turun ke lembah dan sungai menjadi coklat pekat karena lumpur. Hujan terus menerus membuat sungai meluap dan menghancurkan desa. Toilets, water pipes, and years of hard work of Salud para el Pueblo were washed away…:_C

 

Ketika melihat hal tersebut, Pejuang Kesehatan kita menyadari bahwa mereka membutuhkan suatu usaha yang lain untuk mencegah bencana dimasa datang. Building water systems and promoting safe sanitation ONLY solved ONE PART of the problem.

 

Ada pepatah mengatakan “A hill with no trees is like a house with no roof”. Pohon akan menjaga dataran tinggi dari erosi saat hujan angin melanda, sebagaimana atap melindungi penghuninya dari panas dan hujan. The health workers began to see promoting tree planting and protecting natural resources as important as promoting health – because THEY ARE ONE and THE SAME!

 

Dengan keyakinan ini, Pejuang Kesehatan kita memulai Tree-planting Project, namun sebagian warga tidak mau menanam pohon. Salah seorang warga bernama Eduardo menolak dengan mengatakan:”too much work, they just want us to work for nothing”. Ia meyakinkan warga untuk menolak poyek penenaman pohon.

 

Salah satu Pejuang Kesehatan kita, Gloria mengumpulkan warga dalam sebuah pertemuan yang dinamai “But why…?” untuk membantu warga melihat dengan lebih dalam mengapa mereka kehilangan toilet dan piped water. Metode yang sederhana ini kiranya bisa mejadi alternatif yang dapat dilakukan saat PKL di Kab. Probolinggo untuk menemukan akar penyebab masalah; simple…just asked “But Why..”

 

Gloria:”Why were our water and sanitation system destroyed?”

Villager:”Because they were washed away in the storm”

Gloria:”But why they were washed away?”

Villager:”Because the rain turned the hillsides to mud and the villages slid down into the rivers, breaking all the water pipes and toilets”

Gloria:”But why the hillsides colapse?

Villager:”Because all the trees were cut and sold for lumber”

Gloria:”But why were the trees cut?”

Villager:”Because people needed money”

 

Dengan bertanya “Tapi Mengapa…?” Gloria membantu warga untuk dapat memahami bahwa masalah kesehatan yang mereka hadapi terkait dengan lingkungan mereka. Pada akhir diskusi sebagian besar warga sepakat bahwa penting untuk menanam pohon untuk mencegah erosi dan melindungi tanah, namun Eduaro belum teryakinkan:”Planting trees is too much work when we have no crop and no money. We need something that will feed us NOW not in 10 YEARS!”

 

Sejarah mengapa hutan di dataran tinggi gundul adalah karena warga menebangnya untuk menjadi kayu gelondongan karena ada perusahaan dari jepang yang membutuhkan untuk dibawa ke negara matahari terbit tersebut. Kayu dari daerah tropis seperti Ekuador dan Indonesia lebih kuat dan harganya relatif bagus dipasaran dunia.

 

Kembali ke Pejuang Kesehatan Salud para el Pueblo kita, Gloria, dia pulang ke Puskesmas dengan sedikit lesu.”Walaupun mereka telah paham tentang pentingnya menanam pohon, mereka masih tidak mau bekerja untuk menanamnya…bagaimana cara menyakinkan mereka?” gumam Gloria. Pada dia termenung, seekor lebah masuk ruangan dan menyengatnya. Ia tersentak, dan mengusir lebah yang kemudian terbang keluar jendela dan hinggap pada the red flower of carob tree. Hal ini memberikan ide pada Gloria.

 

Keesokan harinya Gloria mengumpulkan warga kembali dan berkata:”Jika kita menanam pohon yang bunganya disukai oleh lebah kita dapat memulai Bee-keeping project dan menjual madu. Hanya butuh satu tahun agar bunganya dapat mekar.” Semua warga setuju termasuk Eduardo, ia berkata pada Gloria:”When my granson was sick with diarrhea we made him a drink from the pods of the carob tree. It cured him better than any medicine from the doctor. I think it would be a good idea to plant carob trees. Then we can make the curing drink and use the honey we produce to make it sweet.”

 

Gloria balik ke Puskesmas dan sangat bersemangat tentang proyek barunya. Setelah merenungkan kembali, Gloria sadar bahwa IT WOULD NEVER WORK FOR HER TO TELL THE VILLAGERS WHAT TO DO. SHE HAD TO LEARN TO SEE THINGS WITH THEIR EYESHEAR THEIR IDEAS, AND UNDERSTAND THEIR NEEDS IF SHE WAS TO BE AN EFFECTIVE HEALTH PROMOTER.

 

Demikianlah cerita tentang program Salud para el Pueblo di Ekuador yang dimulai dari wabah kholera, jambanisasi, perpipaan, sanitary landfills, recycling, community gardens, El Nino, Tree-planting Project hingga menjadi Bee-Keeping Project. Semua merupakan gambaran nyata dari Success Stories dibelahan dunia lain tentang apa itu KESEHATAN MASYARAKAT. Jika buat anda BELUM, Let’s Fall in Love with Public Health!

 

Buat anak-anakku yang akan diterjunkan sebagai Pejuang Kesehatan di Kab. Probolinggo, your exercise awaits you to become the real Public Health Warriors. Semoga cerita Gloria tentang bagaimana pendekatan dan seni BERPERANG KESMAS yang dilakukannya dapat menginspirasi perjuangan kalian dan bahkan mungkin akan lebih luar biasa yang kalian akan lakukan karena seperti komen Tetra, ada tantangan Bahasa. Happy Learning Children…CLEAR EYES, FULL HEARTH…CAN’T LOOSE!

 

Pustaka:

 

Conant, J., & Fadem, P. (2008). Promoting Community Environmental Health. In Conant, J., & Fadem, P., A Community Guide to Environmental Health, (pp.1-9). Canada: Hesperian Foundation.


date Posted on: Selasa, Maret 27, 2012 at 2:26 pm
Category Purple Love.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.

You can leave a response, or trackback from your own site.



Leave a Reply


Trias’ is powered by WordPress
Theme is Coded&Designed by Wordpress Themes at ricdes
Archived by WP Themes