« Andai Semua Rekan Dosen Seperti Geoff. Salud para el Pueblo (Part 1) »

The Fifth Column

Maret
27th
member
trias

Tuesday, June 14, 2011

Coba cermati beberapa alenia berikut ini:

 

Peni setiap hari pergi bersama 6 kawannya ke Pasarturi naik sepeda. Keenam kawannya adalah: Septa, Yuni, Ade, Riska, Deni dan Riris. Sebagian besar (80%) dari mereka memakai sepeda Jengki dan sisanya menggunakan sepeda lipat untuk nggowes setiap hari ke Pasarturi. (descriptive)

 

Peni setiap hari pergi bersama 6 kawannya ke Pasarturi naik sepeda. Mereka melakukannya untuk membangun kebersamaan sebagai sesama bimbingan skripsi Pak Trias serta untuk meningkatkan kesegaran jasmani mereka. Sebagaimana disampaikan oleh salah seorang rekan Peni berikut:

           “Ya memang dengan setiap minggu ngontel bareng kebersamaan dalam grup Gizi Pasukan P. Trias jadi lebih erat,

           suasananya bisa cair, sehingga jadi nggak sungkan untuk saling bantu…lagian badan jadi fresh” (i.1).

Semenjak anak-anak bimbingan saya ngadain nggowes tiap pagi ke Pasarturi mereka menjadi lebih bersemangat

             menyelesaikan skripsi, terlihat lebih ceria dan tidak saling sungkan” (i.2)

Gambar 5.1 (berupa foto ke-7 bimbingan Pak Trias nampang dengan ceria walau berpeluh di depan Pasarturi) menunjukkan bahwa keceriaan dalam beraktivitas fisik secara komunal.

Dari ketiga data diatas kita tahu bahwa bersepeda setiap hari dapat meningkatkan peer togetherness serta kesegaran jasmani mahasiswi bimbingan Pak Trias. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Hario (2010) bahwa nggowes minimal 2 jam setiap hari akan menaikkan skor kesegaran jasmani sebanyak 10 poin. (qualitative-analytic)

 

Peni setiap hari pergi bersama 6 kawannya ke Pasarturi naik sepeda. Mereka melakukannya untuk membangun kebersamaan sebagai sesama bimbingan skripsi Pak Trias serta untuk meningkatkan kesegaran jasmani mereka. Setelah satu semester melakukan nggowes bersama, dilakukan pengukuran antropometri untuk menentukan status gizi serta kenaikan tingkat kesegaran jasmani. Enam dari tujuh mahasiswa (Table.1.1) mengalami kenaikan skor kesegaran jasmani dan setelah dilakukan Uji Statistik terdapat perbedaan signifikan antara kesegaran jasmani (p=0.000) dan status gizi (p=0.001) mahasiswi bimbingan Pak Trias dengan mahasiswa bimbingan Prof. Hario yang tidak melakukan nggowes setiap hari ke Pasarturi. Hasil penelitian ini memperkuat pendapat Hario (2010) bahwa kenaikan skor kesegaran jasmani meningkat seiring peningkatan frekuensi aktivitas fisik.(quantitative-analytic)

 

Menggunakan ketiga contoh alenia diatas marilah kita coba pikirkan secara jernih, berapakah kita akan memberikan penilaian pada penulis berdasarkan 3 kriteria berikut:

    1. Kemampuan Kajian Pustaka

    2. Kemampuan analisis dan kajian problematika

    3. Kemampuan menarik kesimpulan dan mengajukan pendapat pribadi

nilai 3,6 - 4,0 Kajian Pustaka Bagus, Analisis dan kajian problematika OKE serta kesimpulan dan pendapat pribadi baik (A)

 

Maka alenia manakah yang “layak” untuk mendapatkan nilai A? Silahkan tentukan dengan objektif.

 

Alenia diatas adalah refleksi kualitas skripsi yang ada di almamater tercinta. Ketiga kriteria penilaian diatas adalah bagian paling krusial yang menentukan nilai skripsi mahasiswa. Ketiga penilaian tersebut saya istilahkan (biar keren) THE FIFTH COLUMN, karena terdapat mulai pada kolom kelima penilaian sidang skripsi setelah rincian penilaian untuk Penyajian Lisan dan Sistematika Penulisan. Mari kita bahas satu per-satu.

 

Alenia pertama adalah contoh penelitian yang sifatnya deskriptif. Hanya menggambarkan sesuatu dengan pendekatan kuantitatif ada prosentase dan tabulasi silang. ITU SAJA. Tidak ada uji statistik, serta kajian Pustaka kurang mendalam. Jika merujuk pada fungsi S.KM yang M.I.R.A.C.L.E jelas A stands for Analytical Skill. Sedangkan pada buku panduan pendidikan jelas tertulis kompetensi kemampuan analisis dan kemampuan melakukan riset. Bagaimana dengan mahasiswa yang skripsinya tergolong pada alenia DESCRIPTIVE. Secara objective saya akan meluluskan mahasiswa tersebut, namun LAYAKKAH mahasiswa yang bersangkutan kita beri nilai A?

 

Alenia ke-2 (QUALITATIVE-ANALYTIC), penelitian model kualitatif memang jarang dilakukan di almamater tercinta. Namun dengan bangga jika ada mahasiswa saya uji dan memenuhi kriteria alenia ke-2, dengan adanya TRIANGULASI data baik hasil indepth, FGD, data sekunder (kuantitatif) atau gambar observasi ditunjang Tinjauan Pustaka yang kuat saya akan berikan nilai A tanpa paksaan.

 

Alenia ke-3 (QUANTITATIVE-ANALYTIC), model yang merupakan perwujudan kompetensi mahasiswa setelah hampir 4 tahun belajar di FKM dengan mengaplikasikan teori Biostatistika, Epidemiologi, Perilaku, Manajemen dan terkadang bersinggungan pula dengan Gizi, Kesling atau K3. Dengan ditunjang analisis yang tidak sekedar “kulit” serta tinjauan pustaka yang kuat buat mahasiswa seperti ini ABSOLUTE A! Memang terkadang skripsi model ini erkadang justru menggelitik para penguji karena banyak hal yang AMAZING dan menarik untuk diperdebatkan dan dipertanyakan ketimbang model alenia 1. Namun LAYAKKAH kita memberikan nilai A pada skripsi model alenia 1 yang saat sidang “aman-aman” saja karena memang deskriptif ya adanya memang demikian, dibandingkan nilai AB model alenia 2 atau 3 yang memancing “pembantaian” namun mengilustrasikan kedalaman penguasaan KOMPETENSI S.KM yaitu ANALYTICAL SKILL?

 

Permasalahan yang terjadi adalah semua mahasiswa dan pembimbing menginginkan nilai mahasiswa bimbingannya A, tanpa melihat dengan JUJUR dan ADIL apakah terkategori Alenia 1, 2 atau 3. Mungkin masalah kriteria dan contoh alenia masih bisa diperdebatkan; namun saat ini, saya mengetuk hati nurani KOLEGA DOSEN untuk berlaku JUJUR dan ADIL dengan ilustrasi THE FIFTH COLUMN diatas. Karena saat kita “mengasihani” mahasiswa kita, sebenarnya kita telah menjerumuskan mereka kejurang keniscayaan bahwa IPK dan nilai A adalah segalanya. Proses itu penting dan dalam pembimbingan selama lebih dari 6 bulan itulah mari kita godok mahasiswa menjadi mumpuni, menguasai kompetensi utama S.KM. Jangan lagi munafik dengan memberi nilai A pada mahasiswa type alenia 1; namun pada saat yang lain mengatakan S.KM NGGAK ISO OPO-OPO mung SARJANA KAKEHAN MLONGO. Mari kita ciptakan standard yang lebih tinggi untuk mencapai ANALYTICAL SKILL yang mumpuni untuk S.KM.

 

Memang belum sempurna, namun paling tidak saya mencoba memulainya; besar harapan saya gerakan ini bisa menggelinding menjadi lebih besar…mohon dukungannya untuk gerakan THE FIFTH COLUMN!

 

Cogito Ergo Sum!


date Posted on: Selasa, Maret 27, 2012 at 2:12 pm
Category Purple Love.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.

You can leave a response, or trackback from your own site.



Leave a Reply


Trias’ is powered by WordPress
Theme is Coded&Designed by Wordpress Themes at ricdes
Archived by WP Themes